Minggu, 20 Februari 2011

TUGAS SOFTSKILL ETIKA PROFESI

NAMA : FAJAR SIDIK
NPM : 30408334
KELAS : 3ID01


Tugas Mata Kuliah Etika Profesi

1. Jelaskan alasan perlunya etika profesi dalam bidang keteknikan ! Apa yang akan terjadi bilamana profesi keteknikan tanpa etika?
Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as
the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika
akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Sedangkan profesi menurut de george adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

∙Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang
saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling
kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut,
suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan
bersama.
• Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi
landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya
maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini
sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan
tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan
para anggotanya.
• Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian
para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah
disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi
kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut.
Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan,
demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di
1. daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

@ adanya etika profesi dalam bidang keteknikan sangatlah penting, karena dalam bidang keteknikan perlu adanya batasan–batasan untuk mengatur kelancaran dan ketertiban dalam bidang tersebut
Dengan demikian, etika
akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan
manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus
dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk
aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip
moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai
alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum
(common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah
refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat
dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian
dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang
berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan
kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan
sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat
“built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan
untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi
masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian
(Wignjosoebroto, 1999).
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh
kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada
kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.
Sebaliknya bilamana profesi keteknikan tanpa etika, apa yang semula dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan
segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi)
yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan
kepada para elite profesional ini.



2. Beri contoh minimal tiga kasus pelanggaran etika profesi yang pernah terjadi di bidang profesi keteknikan ! Apa dampak yang ditimbulkan?

1. Kasus pelanggaran dalam dunia medis dimana seorang dokter melakukan, kesalahan dalam tindakan medis terhadap seorang pasien sehingga mengakibatkan kerugian yang dialami oleh pasien, bahkan kerugian yang dialami oleh pasien tersebut bisa sangat fatal hingga mengakibatkan kematian ataupun cacat permanen seperti yang dikutip di situs www.indosiar.com/fokus/80541. Dimana seorang pasien asal Surabaya meninggal dunia setelah melakukan operasi cesar, hal ini tidak lain dapat dikarenakan karena suatu pelanggaran etika profesi dalam dunia kedokteran tersebut karena si dokter lalai atau kurang teliti dan tidak mengikuti etika profesi kedokteran yang ada sehingga terjadilah kasus malpraktek tersebut.
2. Kasus pelanggaran kode etik dalam dunia proyek, dimana seorang kontraktor untuk menambah keuntungan bagi dirinya dan melakukan hal-hal yang melanggar kode etik profesinya misalnya ukuran-ukuran kualitas bangunan dikurangi sehingga hasil yang dicapai cepat dan murah namun tidak tahan lama, hal ini tentu sangat fatal akibatnya bagi pengguna bangunan yang dibuat kontraktor tersebut seperti yang dikutip www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/11/02/05/162490 dimana terjadi 62 kasus kecelakaan dijalan yang diakibatkan jalanan rusak. Sebenarnya ada banyak dampak merugikan lain akibat pelanggaran tersebut mulai dari membahayakan pengguna bangunan hasil buatan kontraktor tersebut yang mungkin karena kualitasnya rendah maka daya tahannyapun jelek dan beresiko mengakibatkan kecelakaan yang fatal, dampak lainnya dari hal tersebut reputasi dari si kontraktor menjadi buruk dan dapat mengakibatkan, sepi order atau tidak ada tender yang dapat dipercayakan kepada si kontraktor yang melanggar kode etik tersebut dan kontraktor itupun otomatis dapat dengan cepat mengalami kebangkrutan.
3. Pelanggaran kode etik dalam dunia pendidikan misalkan seorang tenaga pengajar mengajarkan hal yang tidak sesuai dan tidak jelas kepada anak didiknya ataupun lebih mengutamakan bisnis dalam menjalankan pekerjaanya dapat kita temui didalam wajah pendidikan dinegara kita biasanya kita temui praktek-praktek tersebut saat murid-murid selesai menjalani ujian sekolah dan saat itulah biasanya timbul praktek negosiasi nilai, permainan dalam penyaluran dana operasional sekolah, serta permainan ketika penerima anak didik baru seperti yang di tulis pada situs http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/11. hal ini tentunya sangat melanggar kode etik dalam dunia Pendidikan dan dampak yang dapat timbul karena hal tersebut adalah, terciptanya anak-anak didik sebagai generasi penerus yang bermental koruptor dan juga tidak memiliki tanggung jawab serta memiliki tingkat keseriusan yang sangatlah rendah, hal ini sangatlah berbahaya karena dapat mengancam masa depan dari suatu masa depan yang indah.



3. Dalam sebuah laboratorium riset dengan 50 orang peneliti telah terjadi kebocoran yang menyebabkan terinfeksinya para pekerja oleh bakteri mematikan. Dalam waktu singkat telah jatuh 10 korban jiwa. Untuk menghambat penyebaran bakteri yang belum ditemukan obat penangkalnya, dilakukan isolasi terhadap fasilitas tersebut. Namun demikian, potensi ancaman kematian masih menghantui 100 ribu penduduk kota tersebut. Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut adalah dengan membumihanguskan instalasi riset tersebut dengan bom, yang akan meluluhlantakkan fasilitas tersebut termasuk para peneliti di dalamnya. Jelaskan bagaimana cara menyelesaikan dilemma moral tersebut menurut faham:
a. Kantianisme
b. Utilitarianisme
a. Pertama kita lihat dahulu pengertian dari Kantianisme dimana kantianisme adalah paham filosofis yang mengalir dari pemikiran Immanuel Kant. Aliran ini lahir sebagai tanggapan atas ketidakmampuan paham Idealisme yang berusaha menanggapi tantangan ilmu empiris dan positivisme dalam bidang agama. Dengan kata lain, argumen atau pemikiran mereka sulit untuk diterapkan dalam tataran praktis. Padahal di lain pihak, baik ilmu empiris dan positivisme menyatakan apa yang benar adalah apa yang dapat dibuktikan melalui dan dalam pengalaman. Agama memang berurusan dengan apa yang super-sensibilis, tapi sekaligus agama juga harus dapat memperlihatkannya dalam kehidupan konkret, praktis, dan aktual. Inilah yang kemudian hendak diusahakan oleh para filsuf Neo-Kantianisme. Akan tetapi, aliran ini tidak hendak menekankan peranan akal budi teoritis dan sintesenya dalam pemikiran religius, melainkan mencari interpretasi baru terhadap agama dalam hubungan dengan akal budi praktis, hidup moral dan kebangkitan zaman empiris.
Untuk khasus yang diatas bila diselesaikan menurut paham kantianisme maka diperlukanlah, pertimbangan-pertimbangan dari berbagai aspek baik itu agama budi pekerti, moral dan sebaginya yang ada pada faham kantianisme tersebut, dan aplikasinya haruslah diperhatikan juga nyawa-nyawa dari para peneliti yang ada didalam, karena kita ketahui menurut agama dijelaskan bahwa tidak ada satupun penyakit yang tidak ada obatnya, maka dari itu seharusnya diisolasilah dahulu tempat penelitian tersebut dari lingkungan sampai ditemukanya obat untuk menghentikan penyebaran dari penyakit tersebut hal lain lagi yang menjadi alasan bahwa peneliti-peneliti tersebut juga merupakan sumber daya manusia yang bagus jadi sayang untuk dilenyapkan apabila masih bisa untuk diobati dan diperbaiki dari keadaan tersebut..
b. Utilitarianisme memiliki kaidah dasar bahwa sesuatu dikatakan baik atau benar, bukan karena sesuatu itu dinyatakan baik oleh Tuhan atau masyarakat; sesuatu dinyatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mempunyai nilai utility (nilai guna bagi kebaikan manusia). Kalangan utilitarian kemudian mendefinisikan apa yang dimaksud nilai guna (utility) itu. Jadi, menurut mereka, sesuatu dikatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan bagi hidup manusia.
Untuk khasus diatas apabila diselesaikan dengan faham utilitarisme maka diperlukanlah tindakan yang benar-benar memiliki hasil yang lebih berpihak ke jumlah yang dominan, dengan kata lain tanpa perrlunya pertimbangan moral maupun agama yang menyatakan apabila nyawa manusia itu sangatlah berharga, laboratorium itu haruslah dihancurkan atau dibumi hanguskan meskipun nyawa para peneliti tersebut harus lenyap juga karena ini lebih penting, dibandingkan apabila terjadi penyebaran dari inveksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri tersebut menjangkiti seratus ribu nyawa penduduk dikota.